Showing posts with label words. Show all posts
Showing posts with label words. Show all posts

Sunday, June 17, 2018

12:02 AM

Just say "No". It makes life easier.

Read my cheesy poem

Kedua Kutub Magnet yang Terpaut Kembali


Kami hidup memang saling berbeturan: entah itu Tuhan atau hanya gravitasi, kutub-kutub kami menarik kami kembali di sini: saat tawa terasa canggung dengan rindu yang tertahan dan percakapan yang kasual. Aku tidak tahu tentang dia, tetapi banyak sekali hal yang ingin aku bicarakan dengannya: tentang hujan salju di atas stasiun kereta api, atau tentang kedua tangan yang kedinginan yang saling mendekap. Percakapan mengenai asa, masa depan, dan realitas yang semu, serta leluconmu yang sangat aneh, dan gurauan sarkastik yang membuatku ingin berjumpa, dan kembali jatuh cinta, untuk sekali, dua kali, hingga kali-kali berikutnya.

Untuk menjadi yang paling beruntung, atau yang memiliki kesempatan untuk bersua, dan tertidur pulas dengan senyum yang lebar.

Terima kasih!
Terima kasih!

Saturday, May 26, 2018

Berbicara dalam Bisu


Tidak ada manusia yang ingin dilahirkan. Jika memang lubang hitam itu ada, jika memang ruang dan waktu memang benar-benar diciptakan: sebagai sesuatu yang bertstruktur, sebagai sesuatu yang dapat diukur, yang dapat dipermainkan, siapa yang benar-benar mau tenggelam di dalam galaksi luas hanya ditemani ratusan juta orang? Kami semua kesepian. Kami semua sakit hati. Pikir itu baik-baik!

Mungkin planet ini hanya bola kecil di luar angkasa yang sebenarnya terdiri dari bola-bola kecil lainnya di dalam bola kecil, di dalam bola kecil lainnya. Apakah kita sebenarnya virus-virus nakal yang mengotori tata surya? Dimensi penuh dimensi dipenuhi dimensi lainnya yang semuanya tidak dapat masuk di akal. Kami berpikir keras sekeras mungkin dengan berbagai asumsi mengapa kami dilahirkan dan diciptakan selain itu membuat repot kami sendiri dan lingkungan kami?

Oh, ayam. Aku sungguh benar-benar minta maaf karena kami menghidupkanmu, memberimu makan, dan kami mematikanmu untuk kami makan. Apakah manusia sebenarnya hanya 200 juta ekor ayam di mata alam semesta ini? Apakah kami harus diberi makan agar saat kami mati, mereka dapat memakan kami semua? Kami telah menjadi begitu sombong telah berternak ayam, sapi, ikan-ikan, bahkan babi-babi. Aku sudah begitu nyaman memakan ayam dan menggoreng ikan sehingga aku lupa kalau aku akan dimakan nantinya, di telan bumi dan dilahirkan kembali melalui partikel-partikel hara tanah, menjadi gizi yang dimakan seorang bayi yang baru lahir, yang mengatasnamakan cinta! Jika aku terlahir kembali, aku akan menjadi bayi yang menangis paling keras hingga mereka dengar! Dimensi-dimensi akan bergetar malu! 

"Untuk apa sih bocah ini dilahirkan lagi selain untuk menulis propaganda terhadap sistem yang tidak bisa dihentikan!"

Aku tidak mau hidupku menjadi teka-teki dan matiku menjadi sel-sel yang membau dan membusuk. Hingga saat ini, semuanya sama saja: semuanya kesepian dan semuanya sakit hati. 

Wednesday, May 16, 2018

Aneurisme



Aku ingin, raga diterpa angin pagi yang hangat, membawa harumnya uap air laut dan gemerisik ilalang di ujung tebing itu. Matahari bersinar dengan puas sepanjang hari, ditemani burung-burung yang melintas, dan babi-babi hutan yang bersembunyi di balik pepohonan. Aku melihat tubuhku sendiri, hampir tidak memakai apa-apa: hanya kain tipis yang membalut tubuh dan rasa aman yang selalu ada. Suatu hari itu, kala dia datang menjemputku, akan aku hempaskan nafas terpanjang dan senyuman termanis, dan kuuraikan rambutku dengan BE BAS. Kala suatu hari itu datang, akan aku tenggelamkan masa lalu ke dalam palung terdalam bersama belasungkawa mereka.

Aku hanya ingin hidup bersama matahari, dan gemerirsik ilalang, dan nyanyian burung gereja. Suatu hari, aku akan menulis hingga mentari terbenam dan tertidur pulas setelah menghitung bintang-bintang. Aku ingin terbebas dari manusia, agama, polusi udara, gaya hidup, FESYEN, berat badan, edukasi. Suatu hari kelak akan datang, suara-suara menggebu yang melepaskan jiwa dari segala-galanya.

Suatu hari kala aku tak mampu berdiri, dan darah tak mampu mengalir, aneurisme menjemputku, dan aku akan bahagia. Antara ada atau tiada Tuhan, tidak ada manusia yang ingin dilahirkan. suatu hari nanti, aku akan menyatu dengan angin, tanah, air, kotoran, semuanya. Suatu hari nanti, aku akan bebas. 

Monday, April 16, 2018

Sol26


Terdengar hela di sela tempo bekerja
Kedua nafas yang pernah menyatu,
Menjauh bebas bersama angin,
Mencari sudut yang tak serupa,
Hilang arah dari kebersamaan
Suara-suara dalam gempita nan sunyi,
Kedua hati tak berbisu dengan malu

Kala itu,
Hanya kata-kata, banyaknya rasa, banyaknya asa,
Mimpi-mimpi menghidupi jiwa yang haus akan mati,
Harapan nan gugur tumbuh menjadi harapan baru,

Kala itu,
Hanya kata, hanya rasa, hanya lagu dan puisi
Selalu saja sedikit aksi,
ditambah juga sedikit reaksi

Kedua mata saling menatap,
Tatapan yang sama kala keduanya pergi


Sol25

src: pinterest

Eyes are dried,
Hearts are torn,
Dreams are shattered,
Too much farewell in one nght,
Too much longing,
Too much misery,

I used to hate the time cause it raced me to death, how it's gone so fast. These days I found out that time also gives you hope, time answers, time makes everything changes and we can see who we really are, what we want; longer time or less time, maybe we can finally be there.

Thursday, April 5, 2018

Burst of Thoughts at 1:30 am

cancer
suddenly, silently, and continuously, these voices and these touches are left to be scars, sucking myself and torturing inside. You can never say that growth is a great thing. When something is growing, something else is deteriorating. They work both ways like gravity.

So yes, I am so afraid of cancer and what it's capable of doing. Basically, people are cancerous, though. basically, the city is cancerous, the lifestyle, the way we rotate, they radiate, these evil to raise.

social burden
Can you do this?
Can you do that?
Is it possible if you'd help me with...
You know we can depend on you, right?
Don't worry, you'll get through this.
Can we meet up this weekend?
What about next weekend?
Don't forget our family gathering next week.
Don't forget to call your grandmother and say thank you.
Are you free? I got something to tell..
Can you help me with the conversation?
How do I say it to him... It doesn't sound right?

communication,
and noise,noise,noise,
fucking noise.

so fucking tired of communicating I feel like I'm running out of oxygen.  so fucking tired of texts, notification, social media interaction, upcoming calls, all this social burden makes me socially drained. Please just understand that I just want to talk a little less, and listen a little less, 

All the screams and the excitement, with all this noise in my head, 
God, I just want to pass it on. Pass it on. What scares me is that I can never ever ever ever be alone.



Post scriptum:
Hello guys, it's April already, just 4 months away from August: this is the month when I predict my graduation. It's 1:30 am here and I just, can not help not to write, and design.

Monday, March 5, 2018

Women's March Bandung 2018: Catcalling and Bossy Husband Petitions


Good morning, everyone! What a productive Sunday I had. On Sunday, March 4 2018, I joined a women's march in Bandung. I've never labeled myself as a feminist, but there are certain issues that threaten me as a woman. Despite all of those gender equality issues which I barely understand, there are little ones that I've experienced before or that some people around me have experienced before: Catcalling and Bossy Husband.


Living in a strictly-censored society sometimes makes people think that women are their objects: for sex, for slavery, for their jerking off session, basically for their dick. Some think that women are "destined" to feel inferior at some point, because they feel like we're not strong enough. That's why, I guess, this is my assumption that we are often being catcalled. Before we get too far, I want to let you know that I am against catcalling towards men and women because it makes us feel uncomfortable, like emotionally harassed. Some people do it out of boredom, some people do it for jokes, some people do it because they did get a positive respond. But I think, some people need to position themselves as the victim.

Wednesday, December 13, 2017

The thing is,
They've all gone.
Words by words I've remembered
Have fallen deep into oblivion.

I fear that I will never remember them again

Saturday, October 28, 2017

Hari ini hujan datang lagi

Mengenai seorang teman atau bukan, hanya di sana, dia adanya. Hari ini hujan datang lagi, Mas. Sudah beberapa hari langit kelabu mengingatkanku pada wajahmu dan senyuman yang penuh ikhlas itu. 

Bukan surat cinta, atau yang lain, Mas. Kalau rasa sudah tak tertahan dan sastra bisa membantuku, apakah aku harus diam selalu, Mas? Bukankah hanya sepasang mata yang pada akhirnya memahami suara yang tersirat dalam sebuah elegi ini? Tapi ketika kedua mata itu berpaling, bolehkah aku menulis lagi, Mas?

Kekasih atau bukan, bukanlah yang terpenting. Jika hati selalu menunjukmu dan memilihmu seraya waktu berlalu, apakah benak fikir harus mencegahnya? Apa bisa?


Monday, November 14, 2016



by Marc Turlan
Waktu itu, aku bersandang putih abu-abu. Kami bertemu di lantai ketiga. Kemudian kami tidak mengenal apa-apa lagi padahal hati pernah sama-sama bertandang. Sekarang, kedua raga itu pun enggan saling bertanya. Mungkin hanya sosok bersandang putih abu-abu yang aku kenal dulu, yang penuh memori dan tanda tanya tentang ada atau tidak adanya rasa. Jikalau kami sama-sama bertanya, mungkin akan ada yang tersakiti. Jadi, biarkan saja semuanya begini adanya; semua orang punya cerita, dan begitu juga kami. 
Kejutkan aku lagi,
dengan ketukan pintu, 
yang membuat kalbu berdebar,
dengan ketukan pintu,
yang membuat benak bertanya,
dengan ketukan pintu
Aku segera bergegas,
Melihat paras lusuhmu,

Dan sesaat bibir ini tersenyum,
saat membuka pintu
Dan sesaat matanya menyeringai,
saat membuka pintu,
Genggamku tersentuh gengammnya
saat membuka pintu,


Sunday, July 10, 2016

Sastra,



Sastra, 
Sudah lama kita berjauhan. Sungguh telah aku tempuh jenjangnya jarak, untuk menemui, seorang teman lama. Bukan berbicara tentang hasrat yang hilang, atau diri yang enggan. Tapi rasanya, teman lama itu telah menghilang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan tak ingin dijumpai. Kemudian aku berbicara tentang suasana hatinya, yang mungkin sedang pahit. Aku datangi saat hujan merinai jalanan yang kosong dekat rumahnya. Bukan untuk mengusik, tapi untuk menolong. Tapi ia tak ingin bersua. Ada kalanya juga aku datang saat mentari hangat menyinari, daun-daun yang menghijau, dan bunga yang hendak bermekaran, Bukan untuk meminta sepetik panen, tapi untuk turut bersuka cita. Sudah juga aku tawari sebotol anggur, akan juga aku tawari segelas wiski. Namun lagi-lagi, ia tak ingin bersua. 

Sastra,

Melankolis


Dan semalam, kekhawatiranku menggebu, Aku penuhi pikirannya dengan pertanyaan yang bisa aku jawab sendiri. Hari ini, aku menjawab semua pertanyaan yang aku lontarkan. Rasa-rasa mulai bertandang dengan endorfin yang melegakan. Sekali lagi, kita bicara tentang waktu, atau kecepatan, atau apapun bentuknya dalam pikiranmu. 

Ada saat-saat aku kalah bertarung dengan waktu, bagaimana ia begitu cepat pergi, atau terlalu sebentar bertandang. Namun, adakalanya juga diri ini gemar berziarah. Berziarah untuk mengingat sekali lagi, apa yang telah dilampaui. Entah mengapa, namun terasa menghibur. 

Berkali-kali aku mencoba untuk mengucap atau menulis. Namun terkadang, sebelum dilakukan aku sudah menjawab aksi yang belum terjadi. Hari ini aku menziarahi lagi memori-memori yag telah lalu, saat-saat yang telah ditelan waktu. Jika dipikirkan, aku memang sering kalah saat bertarung dengan waktu. Tetapi ada suatu saat di mana aku selalu menang; yaitu ketika aku mengingat.

Gerak-gerik dan bisikan dalam gambaran candramawa, sejuknya angin lalu juga masih bisa dirasa. Aku ingat bilamana mereka tersenyum dan mengasihi dengan cinta. Aku ingat bagaimana mereka bersedih dalam pilu jauh di lubuk kalbu. Aku ingat di kala tawa menyinari hari-hari lebih dari sang surya, aku ingat di kala waktu memaksa orang-orang lupa. Walaupun waktu, kecepatan, dan gravitasi bersekongkol dengan kuasanya, aku dan memori juga bersekutu dengan kuasa kami.

Bila kita memaksa waktu untuk kembali, atau melaju lebih cepat lagi, aku akan kalah melawan waktu. Tapi, jika aku mencuri waktu untuk berziarah dengan memori, tidak ada yang bisa turut campur, bukan?

Saturday, June 18, 2016

Kala mentari berselimut malam
Di mana waktu menghilang dalam gelap
Di sana aku berbicara dalam sunyi
Dengan syahdu mengenal
Masa yang lampau

Karena sementara tidak ada waktu
Biarkan jiwa berkelana
membasuh angan
Yang dulu dikenal
Yang kini dirindukan

Aku melihat wajahnya
Senyuman sahaja dan tatapan sayu
Sepasang bola mata berkata-kata
Dan kalbu bertanya-tanya,
"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Karena sementara tidak ada waktu,
Biarkan semuanya terucap
Karena saat tidak ada waktu,
Rindu pun berbicara

Monday, March 21, 2016

Di dalam kelamnya masa,
Dan kediaman rindu,
Ada kata-kata pilu
Tentang waktu yang membeku
Tentang hujan yang membasahi
Sepasang mata yang sendu
Yang ingin berjumpa

Karena setiap tetes hujan,
Berdongeng tentang masa,
Yang dahulu pernah ada,
Tanpa berani mengakhiri

Jika suatu hari malam terus menjelang,
dan pagi pergi begitu saja,
bukan matahari yang kurindukan,
bukan langit biru,
bukan hangatnya angin pantai,
bukan putihnya awan,
bukan cerianya kicau burung,

tapi udara di sudut jalan itu,
Di mana banyak orang menunggu,
Banyak yang ditunggu,
Tapi kami menemukan
sepasang wajah yang dulu tersenyum,
yang masih tertawa,
sepasang tangan yang menggenggam,
sepasang jantung yang berdetak,


Thursday, March 10, 2016

"You're pretty and you're smart and you're always happy. Everyone wants to be your friends, everyone loves you, and so does he. Please don't take what you don't need. Please. Please don't take what I need. I do need him. I do. Please not now, please go away, please. You can have so much more. You don't need him. Not now, please. Please, I'm begging you. You can have so much bigger portion, I only ask you to give me a small one that I value so much." said a monster with a lonely heart.

Tuesday, December 8, 2015

Wednesday

What feels even more bewildering, to see sincerity is washed away, with dust and wind, with rain and tears, with felony and ignorance. What would you desire even more, when sincerity isn't never worth; the sincere of sacrificial, the sincere of love, the sincere of friendship, were never meant anything. The hardest question is that, where I went wrong, when I did nothing wrong. When I acted how I asked to, when I hoped with your expectation, when I grew with your wishes, when I basically wanted to be what you wanted. 

Why does sincerity ruin your soul? when it was so good, so kind, so innocent, so sinless. When it ends in vain, when sincerity is forgotten, what was all the good for? Where is the universe to be asked why, where is the horizon to explain how, where are people to apologize, and where is self to realize?

Thursday, October 22, 2015

"Dan itu ketika dia datang membawa seikat buga dan sebotol anggur. Dia menggoda dan merayu bak pujangga yang terjerat cinta. Malam ini, seseorang datang dan dua orang pergi, menghilang selamanya. Saat itu, entah apa yang aku rasa, mungkin pilu. Namun, aku merasa tidak merasa apa-apa."