Sunday, July 10, 2016

Sastra,


Sastra, 
Sudah lama kita berjauhan. Sungguh telah aku tempuh jenjangnya jarak, untuk menemui, seorang teman lama. Bukan berbicara tentang hasrat yang hilang, atau diri yang enggan. Tapi rasanya, teman lama itu telah menghilang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan tak ingin dijumpai. Kemudian aku berbicara tentang suasana hatinya, yang mungkin sedang pahit. Aku datangi saat hujan merinai jalanan yang kosong dekat rumahnya. Bukan untuk mengusik, tapi untuk menolong. Tapi ia tak ingin bersua. Ada kalanya juga aku datang saat mentari hangat menyinari, daun-daun yang menghijau, dan bunga yang hendak bermekaran, Bukan untuk meminta sepetik panen, tapi untuk turut bersuka cita. Sudah juga aku tawari sebotol anggur, akan juga aku tawari segelas wiski. Namun lagi-lagi, ia tak ingin bersua. 

Sastra,

Melankolis


Dan semalam, kekhawatiranku menggebu, Aku penuhi pikirannya dengan pertanyaan yang bisa aku jawab sendiri. Hari ini, aku menjawab semua pertanyaan yang aku lontarkan. Rasa-rasa mulai bertandang dengan endorfin yang melegakan. Sekali lagi, kita bicara tentang waktu, atau kecepatan, atau apapun bentuknya dalam pikiranmu. 

Ada saat-saat aku kalah bertarung dengan waktu, bagaimana ia begitu cepat pergi, atau terlalu sebentar bertandang. Namun, adakalanya juga diri ini gemar berziarah. Berziarah untuk mengingat sekali lagi, apa yang telah dilampaui. Entah mengapa, namun terasa menghibur. 

Berkali-kali aku mencoba untuk mengucap atau menulis. Namun terkadang, sebelum dilakukan aku sudah menjawab aksi yang belum terjadi. Hari ini aku menziarahi lagi memori-memori yag telah lalu, saat-saat yang telah ditelan waktu. Jika dipikirkan, aku memang sering kalah saat bertarung dengan waktu. Tetapi ada suatu saat di mana aku selalu menang; yaitu ketika aku mengingat.

Gerak-gerik dan bisikan dalam gambaran candramawa, sejuknya angin lalu juga masih bisa dirasa. Aku ingat bilamana mereka tersenyum dan mengasihi dengan cinta. Aku ingat bagaimana mereka bersedih dalam pilu jauh di lubuk kalbu. Aku ingat di kala tawa menyinari hari-hari lebih dari sang surya, aku ingat di kala waktu memaksa orang-orang lupa. Walaupun waktu, kecepatan, dan gravitasi bersekongkol dengan kuasanya, aku dan memori juga bersekutu dengan kuasa kami.

Bila kita memaksa waktu untuk kembali, atau melaju lebih cepat lagi, aku akan kalah melawan waktu. Tapi, jika aku mencuri waktu untuk berziarah dengan memori, tidak ada yang bisa turut campur, bukan?