Sunday, January 6, 2013

Hope

Aku duduk di tepi kehidupan memandang pelangi transparan, diselimuti guungan-gulungan awan. Aku bernyanyi dengan pelan berharap isi hati akan di dengar, namun tetap jua aku bernyanyi pelan. Bagai do'a, harapan, curahan hati yang sunyi haus akan telinga yang hendak mendengar. Tubuh kecil yang hampir rapuh, dengan lelahnya jiwa, berjalan menyusuri kehidupan. Kegagalan itu bagai bayangan yang terus mengikuti, mengincar gentarnya hati seraya tubuh kecil ini berjalan menyusuri kehidupan. Sekitarnya, adalah... harapan. Di atas, di bawah, di depan, di samping, dimana pun... Harapan diri tak akan putus bagai jalan yang tak akan buntu.

Aku manusia yang selalu bingung. Terjatuh itu... rutinitas. Kadang kugali lubang untuk menjebak diriku sendiri. Tapi, harapan selalu ada. Entah mengapa. Seberapapun rusaknya hati, dan dihancurkannya rasa, harapan itu, ada.

Aku senang. Aku tahu Tuhan di mana. Jadi tidak lagi aku merasa sulit mencarinya. Mungkin ini karenanya, jalan harapan itu tidak pernah buntu. Semua hal bisa menjadi buruk rupa, kemudian dia bisa memolesnya, menjadi cantik. Kemudian jelek lagi, Tapi hidup ini reversibel. 

Sangat reversibel. 

No comments:

Post a Comment